Terlambat bangun pagi ini setelah menyelesaikan The Lost Symbol dalam 2 malam.

Sebenarnya ide Dan Brown adalah ide-ide kuno. Ide yang sudah diketahui dan diyakini oleh Islam sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan Brown sendiri pun mengatakan bahwa ide pada buku tersebut adalah kebijakan kuno yang sudah ada sejak ribuan tahun silam di masa Newton, Bohr, Da Vinci, dan lain-lain. Hanya saja seiring dengan berjalannya waktu, kebijakan itu mulai dilupakan umat manusia kini.

Ide tersebut adalah teori bahwa ada kesadaran dalam diri manusia yang bisa tetap bertahan di luar tubuh jasmaninya. Bahkan Brown menyajikan ide mengenai pikiran yang memiliki massa, yang apabila massa-massa pikiran dalam jumlah besar digabungkan, maka massa pikirang tersebut akan dapat mempengaruhi benda-benda fisik. Seperti halnya sebutir pasir di pantai yang sepertinya sepele dan hampir tidak terdeteksi oleh timbangan, tapi dalam jumlah besar dapat menjadi bukit pasir dan gurun yang mempengaruhi alam sekitarnya.

Brown juga melemparkan ide tentang “menimbang jiwa”. Konon, dengan timbangan yang memiliki presisi yang sangat tinggi, diketahui bahwa pada saat kematian, berat seseorang berkurang meskipun dalam jumlah yang sangat sangat kecil. Ini membuktikan bahwa jiwa manusia mempunyai massa dan dapat diukur.

Ide tentang pikiran yang menguasai tubuh, tentang adanya kesadaran yang dapat berdiri sendiri di luar fisik sudah lama diimani dalam Islam. Hanya saja Brown secara mengejutkan melontarkan ide untuk membuktkan hal-hal tersebut secara ilmiah, yang menurutku, memang masuk akal, terasa logis, dan mungkin saja akan terwujud suatu hari nanti. Atau bahkan sudah terwujud hari ini tapi masih dirahasiakan pihak-pihak tertentu.

Minggu lalu aku juga sempat membaca sebuah artikel di internet tentang sebuah teori lain yang menyatakan bahwa alam semesta ini adalah sebuah hologram super canggih yang memberikan kesadaran berupa apa yang kita sebut “realitas”.
Hologram buatan manusia yang kita kenal saat ini, berasal dari teknik yang memungkinkan cahaya dari suatu benda yang tersebar direkam dan kemudian direkonstruksi sehingga objek seolah-olah berada pada posisi yang relatif sama dengan media rekaman yang direkam. Gambar berubah sesuai dengan posisi dan orientasi dari perubahan sistem pandangan dalam cara yang sama seperti saat objek itu masih ada, sehingga gambar yang direkam akan muncul secara tiga dimensi (3D) yang biasa disebut dengan hologram. Teknologi perekaman citra tiga dimensi ini menggunakan sinar murni (seperti laser). Setelah pemprosesan, akan terlihat penampakan benda yang berbeda-beda dari berbagai sudut. (Wiki)

Hologram buatan manusia sebenarnya hanya menampilkan bayangan tiga dimensi. Sedangkan menurut artikel tersebut, alam semesta ini adalah hologram yang juga menimbulkan sensasi “realitas” yang bisa kita sentuh, rasakan, dan baui dengan panca indera kita. Apabila kita menyentuh, merasakan, dan membaui sesuatu, saraf-saraf pada panca indera kita akan mengirimkan sinyal ke otak yang akan didefinisikan oleh otak sebagai “realitas”. Mirip seperti konsep awal yang membangun film “The Matrix”. Realitas hanyalah kenyataan yang didefiniskan sebagai “kenyataan” oleh otak. Jadi kenyataan itu hanyalah persepsi otak atas sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh saraf kepada dirinya.

Tapi apabila alam semesta ini adalah hologram, berarti diri kita pun adalah hologram. Bahkan otak kita sendiri pun adalah bagian dari hologram itu. Atau secara kasarnya, kita semua hanyalah realitas semu, kita hanyalah definisi “real” yang sudah disetting pada otak oleh sesuatu yang lebih “Nyata”. Kita dan seluruh alam semesta ini hanyalah hologram yang berjalan dengan aturan-aturan yang telah disetting oleh Zat Yang “Nyata”.

Selama ini kita kadang kita beranggapan bahwa sesuatu yang “Gaib” itu adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan panca indera kita. Berada di luar jangkauan logika dan nalar kita, gaib sebagai lawan dari nyata. Jadi, ada yang mengkategorikan bahwa Allah itu gaib. Bagaimana jika sebaliknya? Bahwa ternyata kita-lah yang gaib. Kita dan alam semesta ini adalah gaib. Dan satu-satunya yang nyata adalah Allah sendiri. Bukankah Dia-lah Az-Zhahir? Sang Maha Nyata…

Advertisement