Keponakan teman sekantorku mearayakan ulang tahunnya sore itu. Tentu saja Agim dan Dian diundang. Jadilah siang itu aku ke Ramayana yang kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah kami dengan ditemani suami untuk membeli kado. Sambil memilih kado, aku iseng melihat-lihat jam meja kecil yang lucu dengan karakter Winnie The Pooh yang dipajang di salah satu rak. Aku teringat memang aku sedang mencari jam meja untuk ruang belajar aku dan anak-anak di rumah. Setelah berpikir sebentar, aku pun memilih sebuah.
Setelah mengambil batu baterai untuk jam itu, aku pun menuju kasir untuk membayar. Jam itu discan paling akhir. Setelah dipegang kasir, baru ketahuan kalau jam itu rusak. Kepala si Pooh terlepas dari bagian lehernya. Rupanya kayu kecil yang menghubungkan kepala dan badan Pooh patah. Si kasir menawarkan agar jam itu diganti dengan yang masih bagus. Tentu saja aku setuju. Akhirnya petugas yang lain mencari jam yang sama.
Rak jam itu sebenarnya letaknya tidak jauh dari kasir. Tapi aku heran saat itu. Koq si petugas mondar mandir seperti kebingungan. Akhirnya, petugas itu kembali lagi dan menginformasikan bahwa semua jam Winnie the Pooh (ada 3 jam lain yang sama saat itu) yang ada di rak itu rusak.
Dengan kesal aku berkata, “jam rusak koq dipajang mbak?”.
Mereka diam.
“Uang saya bisa kembali tidak?” tanyaku tidak yakin. Sebab jam itu sudah masuk di hitungan cash register.
Dan benar saja. Menurut jawaban mereka, uang tidak bisa dikembalikan. Akhirnya seorang petugas lagi yang rupanya supervisor, menawarkan untuk diganti dengan jam yang lain. Aku bersedia. Kebetulan ada lagi sebuah jam Winnie the Pooh model lain.
Supervisor itu menyarankan aku untuk membeli jam yang harganya lebih mahal dari jam yang pertama. Tapi aku hanya mau jam Pooh. Akhirnya aku memilih sebuah jam yang harganya lebih murah empat ribu rupiah dibanding jam yang pertama. Si supervisor bertanya, “Ibu mau yang ini? Tapi sisa uangnya tidak bisa kami kembalikan”.
Aku berpikir sebentar. Lalu jawabku “begini say. Saya kebetulan juga membeli kado. Biaya jasa bungkus kado tiga ribu rupiah. Bisa tidak, dikompensasi saja dengan ini? Jadi saya tidak harus membayar lagi untuk jasa pembungkusan kado saya.”
“Tidak bisa, bu. Soalnya cash-nya beda”.
Saat itu sebenarnya aku ingin berbicara dengan manajer mereka. Tapi aku mengurungkan niat. Terlalu banyak usaha hanya untuk empat ribu rupiah. Belum lagi keramaian yang mungkin timbul.
Tapi sepanjang jalan ke rumah dan sampai sekarang aku masih berpikir. Bukan masalah sedikit atau banyak. Bukan masalah empat juta atau empat ribu rupiah. Tapi ini masalah hak. Empat ribu rupiah itu hak aku. Aku rasanya pernah seorang udztaz menyampaikan bahwa apabila seseorang mati karena menuntut haknya, maka orang itu mati syahid (udztaz siapa.. aduh, lupa).
Di pihak lain, aku teringat kisah yang pernah dikirimkan seorang teman. Tentang seorang tukang semir sepatu yang mengembalikan ongkos semir sepatunya yang kelebihan. Padahal orang yang disemirkan sepatunya sudah merelakan kembalian itu untuk si tukang semir sepatu. Tapi si tukang semir itu berkeras mengembalikan uang tersebut. Sebab ia tidak ingin menerima lebih dari haknya.
Sistem? Karena Ramayana menggunakan sistem cash register canggih yang tidak bisa dilakukan penarikan kembali untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sedangkan si tukang semir sepatu hanya menggunakan kotak uang biasa yang terbuat dari kardus bekas. Sehingga si tukang semir sepatu bisa mengembalikan uang semaunya tanpa terikat sistem, sedangkan Ramayana?
Cash register itu hanya sebuah mesin. Dan Ramayana “terpaksa” melepaskan salah satu nilai moral hanya karena terikat pada aturan sebuah mesin.