Salah satu yang kusukai dari dibonceng motor di pagi hari ketika berangkat ke kantor adalah aku bisa memperhatikan sekelilingku. Sampah di depan night club dan deretan restoran, mobil berplat merah yang diparkir di depan hotel murah, tembok air mancur kota yang mulai menghitam, atau sekedar rumput hijau basah yang terlihat seperti tersenyum terkena sinar matahari setelah disiram rintik hujan semalam.

Atau seperti pagi ini. Seorang bapak setengah baya yang menggenggam tongkat sapu jalanan, yang mengenakan baju yang sudah mulai pudar warnanya. Pasir di atas aspal mungkin agak berat disapu pagi ini setelah hujan mulai subuh tadi. Meskipun tidak terlalu deras, tapi cukup membuat pasir di jalan menjadi basah.

Setelah susah payah mengumpulkan pasir dan dedaunan ke pinggir jalan dengan sapunya, tanpa segan-segan Bapak itu meraup tumpukan sampah itu dengan kedua tangannya yang sudah mulai keriput untuk meletakkannya ke atas trotoar yang lebih tinggi dari badan jalan. Hanya dengan kedua tangannya yang tidak beralas apa pun.

Tak lama motor Ayahku pun melewati Bapak itu. Dan aku tidak bisa melihatnya lagi.

Terima kasih, Bapak yang baik. Jalan protokol itu kini jadi lebih indah karena engkau dan kedua tanganmu. Ya Allah, berkatilah Bapak itu. Berkatilah kedua tangannya yang rela berkotor-kotor demi keindahan dan kebersihan sebagian kota ini. Ya Allah, sayangilah seluruh penyapu jalan di dunia ini yang telah rela berdebu-debu hanya untuk membiarkan kami yang lain, yang terkadang dengan seenaknya mengotori, berlalu dengan nyaman di jalan itu.

Bapak yang baik, semoga kedua tangan Bapak kelak akan bersaksi dan menyelamatkan Bapak di akhirat nanti.

Advertisement