Seorang sahabat mengeluh. Sulit sekali membujuk perusahaan tempatnya bekerja untuk menjadi sponsor bagi kegiatan-kegiatan sosial. Padahal banyak sudah lembaga sosial yang mengajukan proposal yang menawarkan berbagai bentuk kemitraan. Mulai dari layanan kesehatan gratis, rumah sakit gratis, layanan pendidikan gratis, dan gratis-gratis lainnya bagi dhuafa. Padahal baik sekali progam-program itu untuk mendukung program CSR perusahaan. Memang sudah lama sekali sejak sahabatku itu mendengar tentang CSR di perusahaanya. Dulu gong CSR itu nyaring berbunyi. Sekarang menurut dia rasanya gaungnya semakin melemah.
Sahabatku itu merasa malu. Memang perusahaan tempatnya bekerja kini sedang mengalami masa yang tidak mudah. Tapi tetap saja masih lebih beruntung dari perusahaan-perusahaan pesaingnya yang bergerak di bidang yang sama. Dan masih jauh lebih beruntung dari perusahaan-perusahaan dengan pendapatan yang skalanya lebih kecil dibanding skala pendapatan perusahaannya. Dan perusahaan-perusahaan kecil itu secara konsisten mengalokasikan dana CSR mereka untuk salah satu lembaga sosial yang diketahuinya, untuk mendukung event layanan kesehatan gratis yang diselengggarakan lembaga tersebut.
Tapi begitulah. Sang Sahabat merasa kecewa. Dia merasa kering, sekering daun-daun yang berguguran di musim kemarau. Tekanan pekerjaan untuk selalu menghasilkan yang terbaik, memang terbayar secara materi. Tapi dia merasakan ada yang kurang. Dia merasakan ada dahaga di sela-sela siraman materi. Bukan, bukan karena kufur nikmat.
Dulu, ketika gaung CSR masih berdentang nyaring, sahabatku itu pernah sempat merasakan indahnya berbagi. Dia menikmati kesibukan menjadi panitia berbagai macam acara sosial yang diadakan perusahaannya. Ia sempat melihat wajah-wajah bahagia yang mengelilinginya pada acara-acara itu. Entah kenapa, hal itu menjadi semacam candu baginya. Maka kini ia pun merasa kehilangan dan merindukan saat-saat itu. Saat-saat ketika ia bisa berdekatan dengan kaum yang kurang beruntung dari dirinya. Membuat ia melupakan sesaat dan dapat beristirahat dari angan-angan dan mimpi-mimpi tertingginya akan dunia. Membuat ia tersadar betapa jauh lebih beruntung dirinya dibanding banyak orang lain di luar sana.
Apakah CSR itu telah sirna? Apakah semangat berbagi itu hanya ada karena adanya CSR? Apakah CSR itu hanya semacam trend sesaat? Terlalu sibukkah mereka semua mengejar dan menjaga target, sehingga tak tersisa lagi tenaga dan gairah untuk sekitar?
