Sebenarnya ini puisi lama. Tanpa judul pula. Ditemukan oleh seorang teman di salah satu notebook yang pernah aku pakai. Padahal aku sendiri pun sudah lupa dengan puisi ini.
Puisi ini ditulis 2006. Sesudah terjadi bencana berturut-turut gempa dan tsunami di Aceh, meletusnya Merapi, dan gempa di berbagai kota di Indonesia. Benar-benar tahun yang penuh bencana.

Tuhan,
Apakah yang sedang terjadi dengan Indonesia kami
Telah Kau cuci tanah Aceh
Dan telah tunduk Merapi kepada kehendak-Mu
Dan telah Kau sentil kesombongan kami dengan porak porandanya Borobudur
Dan berguncang kembali tanah-tanah kami di Palu, di Lampung, dan di Ambon
Dan tanah Surabaya telah terlumuri lumpur
Dan kini telah Kau cuci pula tanah Sulawesi Selatan
Dan akankah Kau bangunkan pula Dieng?

Oh, tidak…
Ampuni kami, Tuhan
Ampuni kami karena telah menyalahkan Engkau atas semua kejadian ini
Padahal mungkin Engkau hanya kasihan kepada bumi
Karena telah kami rusak,
Dan akan lebih kami rusak lagi
Dan Engkau hanya membiarkan ia mengeluarkan sedikit bebannya

Tuhan,
Atau mungkinkah Engkau mencoba memanggil kami dengan cara ini
Karena kami sudah tidak punya rasa lagi
Karena kami sudah gagal bertulus ikhlas
Tapi Engkau masih begitu sayang kepada kami,
Dan tidak ingin agar kami lebih merusak diri kami sendiri

Tuhan,
Bahkan hari ini pun
Aku menulis proposal bantuan,
Atas nama Good Corporate Citizenship
Bukan atas namaMu
Ampuni aku, Tuhan…
Karena aku hampir lupa,
Bagaimana caranya bertulus ikhlas
Bagaimana rasanya bersimpati

Aku kini hanya ingat wanginya parfum ruangan kantorku yang mewah
Megahnya kue ulang tahun kantorku
Lezatnya hidangan hotel yang disiapkan untuk meetingku
Padahal….
Mereka bilang negara ini harus meminta tambahan dana cadangan strategis
Karena terlalu banyak bencana yang terjadi tahun ini

Tapi Tuhan,
Indonesia kami adalah milikMu
Dan kami juga milikMu
Seutuhnya….

Makassar, 23 Juni 2006