“Wah, facebook lagi? Apakah tidak ada situs yang lain?”
Demikian batinku berkata ketika melihat sebuah komputer dengan layar LCD besar di sudut sebuah toko buku. Komputer itu rupanya sengaja diletakkan di sana oleh pengelola toko buku untuk memberi kesempatan kepada pengunjung mengakses internet. Tapi lagi-lagi Bapak pengunjung itu mengetikkan www.facebook.com di address bar-nya.
Ledakan internet yang terjadi di Indonesia 2 tahun belakangan ini tidak lepas dari ledakan facebook dengan segala kontroversinya. Aku sendiri pun (dengan malu-malu mengakui) sempat mengalami demam facebook. Setahun yang lalu, ada teman yang bilang “yang nggak punya fb nggak gaul”. Facebook apaan sih? Pikirku waktu itu. Maka sebenarnya awalnya hanya terdorong penasaran saja. Jadilah akun facebook baru atas namaku. Status teman-teman yang lucu atau usil rasanya jadi hiburan di sela-sela kepenatan.
Tapi lama kelamaan, aku jadi kenal Mafia Wars, Pet Society, dan Restaurant City. Mafia Wars sampai level 180, simpanan di Bank sampai millyaran dollar. (Tapi kesal karena tidak bisa diuangkan di dunia nyata. Hahaha…). Akhirnya, aku sampai ke kondisi ketika status teman-teman yang dulunya lucu-lucu itu pun jadi tidak lucu dan tidak menyegarkan lagi.
Setahun pun sudah berlalu, dengan segala suka duka akun facebook milikku. Blog yang tak tersentuh, kreativitas yang makin tumpul karena tak terasah, kemampuan menulis yang berkurang, narsisme … Dan rasanya… kebosanan yang memuncak akan facebook. Rasanya mungkin seperti seorang perokok yang disuruh merokok 77 batang terus menerus tanpa henti.
Jadi hari ini aku menengok kembali ke blog milik Helvy Tiana Rosa. Aku selalu menganggap tulisan-tulisan beliau sangat berkarakter dan sangat menginspirasi siapa saja. Makanya kalau sedang tumpul, aku suka sekali berkunjung ke blog itu. Sayang sekali, entry terakhir di blog itu tertanggal 15 Agustus 2008. Masih sama dengan saat terakhir kali aku berkunjung ke sana. Wah, mudah-mudahan hanya karena sangat sibuk sehingga Mbak Helvy belum sempat mengupdate blog-nya lagi. Bukan karena pindah haluan ke facebook.
Sekarang aku pun berharap, semoga anak-anakku selangkah lebih maju dari generasi facebook. Semoga mereka bisa melihat internet sebagai barang yang lebih maju dan lebih bermanfaat dunia akhirat daripada sekedar alat untuk mengakses facebook.